angin mendayu merdu
tiupkan sejuta makna hidup yang baru
malam menyelimuti khalbu
sembunyikan raga dari ragu
aku termenung menatap kerlip lampu kehidupan
aku begitu jauh
tenggelam dalam lembah kesunyian
pikir kadang melayang
merunut jejak yang samar membayang
aku diam
Hanya perjalananku tentukan arti sebuah transisi kehidupan yang kujalani bersama sang alam.
25 Agustus 2008
17 Agustus 2008
Part II
lenyap
hilang
membias
mengabur dari semua yang kelilingiku
aku tak bisa mereka lihat
atau mereka yang tak mau melihatku
hanya senyap yang aku dapat
walau mereka ada didepanku
aku hilang
aku tembus pandang
itukah perasaanku pada mereka
atau sebaliknya
mereka yang menganggapku hilang
tembus pandang
semua terjadi
semua berlalu
begitu saja tanpa aku rasa
aku telah hilang
aku dihilangkan
hilang
membias
mengabur dari semua yang kelilingiku
aku tak bisa mereka lihat
atau mereka yang tak mau melihatku
hanya senyap yang aku dapat
walau mereka ada didepanku
aku hilang
aku tembus pandang
itukah perasaanku pada mereka
atau sebaliknya
mereka yang menganggapku hilang
tembus pandang
semua terjadi
semua berlalu
begitu saja tanpa aku rasa
aku telah hilang
aku dihilangkan
Part I
aku hilang
hilang dari semua yang kutentukan
kucoba berpikir sejenak
apa yang menentukan aku
tak ada
arah
angin
matahari
arus
semua lenyap
hilang dari hadapanku
atau aku yang hilang dari mereka
bertahan dalam kehampaan memang lebih berat
daripada berdiri dari keterpurukan
apa ini akhirku
apa ini ujung dari semua yang kupertahankan
atau justru aku yang di pertahankan
aku diam
aku bisu
tertawa
menangis
berbisik
lalu teriak
pada siapa aku teriak
tak pada angin
tak pada matahari
tak pada rumput
atau awan
siapa yang mau mendengarkan teriakanku
atau aku yang tak pernah mau dengar bisik mereka
terduduk
kaku
lenyap
hilang dari semua yang kutentukan
kucoba berpikir sejenak
apa yang menentukan aku
tak ada
arah
angin
matahari
arus
semua lenyap
hilang dari hadapanku
atau aku yang hilang dari mereka
bertahan dalam kehampaan memang lebih berat
daripada berdiri dari keterpurukan
apa ini akhirku
apa ini ujung dari semua yang kupertahankan
atau justru aku yang di pertahankan
aku diam
aku bisu
tertawa
menangis
berbisik
lalu teriak
pada siapa aku teriak
tak pada angin
tak pada matahari
tak pada rumput
atau awan
siapa yang mau mendengarkan teriakanku
atau aku yang tak pernah mau dengar bisik mereka
terduduk
kaku
lenyap
16 Agustus 2008
surat buat bintang
kupandang malam-malamku kini
aku tak akan sendiri lagi
ada bintang yang akan selalu menemani
menemani malamku yang dulu sepi
kini hadir bintang tempatku berbagi
saat aku gundah dan lelah
ia selalu buatku nyaman dan melayang damai
saat aku riang dan tertawa
bintang akan ikut tersenyum dalam gembiraku
bintang
jangan pernah jauh dariku
karena aku takut jauh darimu
hanya gelap yang datang
bila kau tak ada
tetaplah ada disampingku
menemaniku dalam senyum dan tangisku
mendampingiku menatap masa depan dunia
tetap tersenyum untuk tenangkan hatiku
kemarin,sekarang dan selamanya
aku tak akan sendiri lagi
ada bintang yang akan selalu menemani
menemani malamku yang dulu sepi
kini hadir bintang tempatku berbagi
saat aku gundah dan lelah
ia selalu buatku nyaman dan melayang damai
saat aku riang dan tertawa
bintang akan ikut tersenyum dalam gembiraku
bintang
jangan pernah jauh dariku
karena aku takut jauh darimu
hanya gelap yang datang
bila kau tak ada
tetaplah ada disampingku
menemaniku dalam senyum dan tangisku
mendampingiku menatap masa depan dunia
tetap tersenyum untuk tenangkan hatiku
kemarin,sekarang dan selamanya
12 Agustus 2008
doa....
rerumputan bergetar dihempas angin lembut mengelus
kicau merdu hiasi keheningan alam yang lama rapuh
aliran deras sejukkan terik siang yang mengelus bumi
akankah ini semua bertahan sampai nanti
aku berdoa dalam hati
ini semua akan selalu ada dan hiasi
tiap langkah dalam jalan panjang kehidupan
biarkan angin selalu hembuskan harapan baru tiap hari berganti
biarkan arus yang hanyutkan gundah dan lelah dalam diri
biarkan
biarkan doa ini menggema dalam hati
kicau merdu hiasi keheningan alam yang lama rapuh
aliran deras sejukkan terik siang yang mengelus bumi
akankah ini semua bertahan sampai nanti
aku berdoa dalam hati
ini semua akan selalu ada dan hiasi
tiap langkah dalam jalan panjang kehidupan
biarkan angin selalu hembuskan harapan baru tiap hari berganti
biarkan arus yang hanyutkan gundah dan lelah dalam diri
biarkan
biarkan doa ini menggema dalam hati
11 Agustus 2008
10 Agustus 2008
aku duduk tertunduk
menatap kering rerumputan tanpa harapan
angin masih tetap bertahan
mengelus lembut pucuk-pucuk dedaunan
setetes peluh mengalir pelan
dan jatuh menimpa masa depan yang kandas
bersama runtuhnya pepohonan
apa ini yang kita pertahankan
harapan kosong menatap masa depan
hanya teronggok bersama bangkai-bangkai kemunafikan
melayang bersama debu-debu kematian
kapan kita berlari bersama angin lagi
menjemput esok yang penuh tanda tanya
tanda yang tak pasti jawabnya pula
menatap kering rerumputan tanpa harapan
angin masih tetap bertahan
mengelus lembut pucuk-pucuk dedaunan
setetes peluh mengalir pelan
dan jatuh menimpa masa depan yang kandas
bersama runtuhnya pepohonan
apa ini yang kita pertahankan
harapan kosong menatap masa depan
hanya teronggok bersama bangkai-bangkai kemunafikan
melayang bersama debu-debu kematian
kapan kita berlari bersama angin lagi
menjemput esok yang penuh tanda tanya
tanda yang tak pasti jawabnya pula
obrolan kepada malam......
langit tak lagi tersenyum riang.....tak ada lagi bintang yang riang bersinar..tak ada lagi bulan yang hiasi keheningan......kini malam hanya tinggal kesunyian...kelam..gelap...hampa.....dan angin yang mengelus kebekuan hati........kenapa bintang pergi....kenapa bulan tak tersenyum lagi......aku ingin tanyakan itu pada malam......tapi aku tak sabar menunggu malam tiba....karena aku telah bosan juga pada kelamnya yang beku......malam.....kapan kau panggil bintang dan bulan......aku butuh teman yang selalu hiasi kesunyian.....selalu ada temani dalam kehampaan.......apakah kau sanggup bertahan dalam kesendirian.....aku bosan....aku jenuh sendiri.......aku butuh bulan dan bintang.....karena tanpa mereka kau takkan ada menemaniku disini.........panggil bintang...kembalikan bulan.........karena kalian dan aku satu.....akan saling memiliki sekarang.....sampai selamanya............................
09 Agustus 2008
Angin berbisik sendu.......
Angin berbisik sendu....
Mendendangkanalunan kehidupan bak lagu........
Seakan mencari kedamaianyang lepas dari khalbu....
Tapi apa itu yang ia cari....
Aku takkan pernah bisa mengerti........
Atau karena aku tak pernah bisa mengerti.......
Angin berbisik sendu......
Meratapi jalan takdir yang penuh dengan ragu......
Meracau sendiri tanpa tempat mengadu........
Tapi kemana angin kan mencari............
Karena angin selalu pergi.......
Dan mungkin takkan pernah kembali................
Mendendangkanalunan kehidupan bak lagu........
Seakan mencari kedamaianyang lepas dari khalbu....
Tapi apa itu yang ia cari....
Aku takkan pernah bisa mengerti........
Atau karena aku tak pernah bisa mengerti.......
Angin berbisik sendu......
Meratapi jalan takdir yang penuh dengan ragu......
Meracau sendiri tanpa tempat mengadu........
Tapi kemana angin kan mencari............
Karena angin selalu pergi.......
Dan mungkin takkan pernah kembali................
07 Agustus 2008
Ketika alam berbisik sendu.................
aku berjalan dan terus terjaga dari segala yang membisikkanku....
sejenak terpaku dalam kesunyian lalu tergagap mendengar tangisan............
aku tak pernah mengira apa yang akan tejadi.....
karena manusia hanya bisa meninggalkan masa lalu tanpa pernah sekilas menilik masa depan......
suara tangisan membisik perlahan membelah kesunyian.......
seakan membisikkan kekecewaan dan keputusasaan yang dalam......
kepada sesuatu yang telah beribu tahun lamanya dijaga............
ya.......alam menangis.......menangisi kelakuan umat manusia yang tak lagi menyayangi alam seperti dulu alam menyayangi manusia..................
alam hanya bisa diam dalam bencana yang mengisyaratkan angkara murka.........
namun manusia hanya tertawa dalam dosa yang ia cipta...........
sejenak terpaku dalam kesunyian lalu tergagap mendengar tangisan............
aku tak pernah mengira apa yang akan tejadi.....
karena manusia hanya bisa meninggalkan masa lalu tanpa pernah sekilas menilik masa depan......
suara tangisan membisik perlahan membelah kesunyian.......
seakan membisikkan kekecewaan dan keputusasaan yang dalam......
kepada sesuatu yang telah beribu tahun lamanya dijaga............
ya.......alam menangis.......menangisi kelakuan umat manusia yang tak lagi menyayangi alam seperti dulu alam menyayangi manusia..................
alam hanya bisa diam dalam bencana yang mengisyaratkan angkara murka.........
namun manusia hanya tertawa dalam dosa yang ia cipta...........
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
+%281%29.jpg)