10 Agustus 2008

aku duduk tertunduk
menatap kering rerumputan tanpa harapan
angin masih tetap bertahan
mengelus lembut pucuk-pucuk dedaunan
setetes peluh mengalir pelan
dan jatuh menimpa masa depan yang kandas
bersama runtuhnya pepohonan

apa ini yang kita pertahankan
harapan kosong menatap masa depan
hanya teronggok bersama bangkai-bangkai kemunafikan
melayang bersama debu-debu kematian
kapan kita berlari bersama angin lagi
menjemput esok yang penuh tanda tanya
tanda yang tak pasti jawabnya pula

Tidak ada komentar :